Berita Bethel
Penulis: Pram (23/06/2016)
Tiga Syarat Menerima Mujizat


Usai sambutan Ketua Bamag Nasional, acara Paskah Bamag Nasional dilanjutkan dengan puji-pujian. Selanjutnya, Pdt. Gilbert Lumoindong, STh (Gembala GBI Glow Jakarta) menyampaikan kotbah dengan judul “Tiga Syarat Menerima Mujizat”. Ia membuka kotbahnya dengan ajakan memperkatakan kata-kata, kalimat yang memberkati bangsa dan negara.



Paskah digelar di Monas ini, menurutnya dunia dan seluruh tanah air melihat bahwa situasi Indonesia kondusif dan aman.Selanjutnya Ia membacakan nats Daniel 4:2-3 “Aku berkenan memaklumkan tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang telah dilakukan Allah yang maha tinggi kepadaku.



4:3 Betapa besarnya tanda-tanda-Nya dan betapa hebatnya mujizat-mujizat-Nya! Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal dan pemerintahan-Nya turun-temurun!”. Sebelumnya, Raja (kafir) Nebukadnezar sempat marah kepada Sadrakh, Mesach, Abednego karena menolak menyembah patung berhala. Mereka bertiga dilemparkan ke dalam perapian yang sangat panas, namun mereka hidup. Bahkan Raja melihat ada 4 orang disitu (Pasal 3:1-30).Atas kejadian spektakuler ini, maka Raja mengakui kehebatan Allah seperti tertulis pada nats Daniel 4:2-3.



Tiga Syarat Menerima Mujizat : Gembala GBI Glow Jakarta ini menyampaikan seseorang bisa menerima mujizat seperti kisah nyata diatas, maka ia harus melakukan tiga hal yaitu Pertama, merendahkan diri di hadapan Tuhan, sama ketika Kristus rela menjadi manusia dan disalibkan.



Kedua, melakukan perubahan radikal yang berarti mencabut semua kebiasaan hidup, perkataan yang buruk (sumpah-serapah, mengutuk, kebencian) sampai ke akar-akarnya. Perlu “mati” bersama Yesus agar menerima (kuasa) kebangkitan-Nya. Manusia lama mati supaya manusia baru menjadi hidup di dalam Kristus.



Ketiga, bersedia melangkah dengan iman yang kelak menghasilkan mujizat .Artinya, segala permasalahan, sakit-penyakit, problematika bangsa dan negara bisa diselesaikan dan ada solusi. Ia menekankan agar semua komponen bangsa, negara, pejabat melakukan tobat nasional dan mengakui Allah yang hidup.



Makna Paskah : Paskah menurut pandangan Pdt. Gilbert adalah pesta iman, pesta kemenangan, pesta pengharapan, pesta kemuliaan, pesta pemulihan dan pesta pelunasan. Segala dosa terlunasi dengan kematian Kristus. Indonesia adalah bangsa yang besar, jangan minder. Indonesia akan dihormati, mengalami pemulihan, bebas radikalisme dan terorisme. Bahkan, ia percaya kelak Jakarta, Indonesia, Presiden, Gubernur DKI, DPR, DPRD, Menteri, Polri,TNI, para pejabat Indonesia akan menerima mujizat.



Sambutan Wagub DKI Jakarta : Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, M.S selaku Wagub dalam sambutan singkatnya mengatakan sikap keugaharian bukan untuk memiskinkan diri tetapi sebuah sikap hidup yang melihat dan menghargai hidup sebagai anugerah Allah. Anugerah-Nya adalah termasuk semua sumber penopang hidup di planet dunia ini cukup untuk semua jika dikelola secara bertanggung-jawab. Sikap berbagi adalah bagian yang tidak terpisahkandari keugaharian.



Perayaan Paskah adalah suatu momentum kebangkitan yang selalu didahului dengan derita, jalan terjal, keras dan penuh perjuangan. Seluruh umat Kristen mari bersatu bersama-sama untuk membangun Jakarta agar lebih baik lagi, berbagi dan memberikan apa yang ada pada diri kita demi kebaikan lingkungan.



Hal itu dilakukan dengan tanpa melihat golongan atau satu agama saja tetapi satu untuk semua, semua untuk satu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan damai pada diri masing-masing untuk menciptakan Jakarta yang damai, aman dan indah. Dengan demikian, Jakarta sebagai ibu kota yang bisa dibanggakan. Pdt. Soehandoko Wirhaspati (MP BPH GBI) menutup perayaan Paskah dengan doa.



Acara dilanjutkan dengan penganugerahan rekor MURI atas kinerja Panitia (GBI Glow) yang menampilkan salib dengan ukuran tinggi 20 meter. Usai acara, kaum muda berjalan kaki sembari berdoa dari kawasan Monas menuju ke Jl. Thamrin, lanjut ke Bundaran HI.