Berita Bethel
Penulis: Pram (04/11/2019)
Diduga Kecewa Soal Brexit, Skotlandia Tuntut Kemerdekaan


Sekitar ribuan warga melakukan pawai menuntut kemerdekaan Skotlandia di George Square, Glasgow, pada Sabtu (2/11) pekan lalu. Aksi itu dilakukan menjelang pemilihan umum pada Desember mendatang dan diduga dilatarbelakangi kekecewaan mereka terhadap rencana pengunduran diri Inggris dari keanggotaan Uni Eropa (Brexit).



"Jangan buat kesalahan, pemilihan umum yang akan kita hadapi pada 12 Desember merupakan pemilihan paling penting bagi Skotlandia seumur hidup kita. Masa depan negara ada di hadapan kita. Kita semua harus keluar dan memilih dalam pemilu tersebut," kata Wakil Perdana Menteri, Nicola Sturgeon, seperti dilansir AFP, Senin (4/11).



Sturgeon yang juga merupakan Ketua Partai Nasional Skotlandia (SNP) meyakini cita-cita kemerdekaan tidak lama lagi bakal terwujud.Dalam orasi di hadapan pendukung, Sturgeon juga menjanjikan untuk menggelar jajak pendapat kemerdekaan pada tahun depan.



"Ini waktunya bagi Skotlandia untuk menentukan masa depannya dan menjadi momen bagi Skotlandia untuk menjadi negara independen," ujar Sturgeon.

Sturgeon berencana akan mengajukan permintaan resmi untuk aturan Pasal 30 kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, pada akhir tahun ini. Pasal itu dapat menjadi landasan hukum pemerintah Skotlandia untuk mengadakan referendum.



Tidak hanya orasi Sturgeon saja yang mengisi rangkaian pawai tersebut, tampak pula beberapa penduduk membawa atribut seperti bendera salib St. Andrews yang disertai dengan kata 'Ya' dan bendera Negara Bagian Catalonia yang dikibarkan dalam pawai. Bendera Catalonia dikibarkan sebagai bentuk solidaritas terhadap upaya negara bagian itu untuk merdeka dari Spanyol.



Sebagian massa lain juga ada yang menggunakan atribut rok lipat khas Skotlandia dan memainkan alat musik bagpipe.Di sisi lain, ada beberapa massa pendukung Inggris yang membawa bendera Union Jack berpawai di dekat mereka.



Sebelumnya 55 persen masyarakat Skotlandia menolak kemerdekaan dalam referendum pada 2014 lalu. Namun, para politikus nasionalis berpendapat mereka berhak menggelar jajak pendapat ulang setelah Inggris menggelar referendum soal Brexit pada 2016.



Sebanyak 62 persen masyarakat Skotlandia memilih untuk tetap di dalam Uni Eropa (UE) saat jajak pendapat Brexit digelar.Mereka juga berpendapat beberapa orang yang menentang kemerdekaan berpikir bahwa keputusannya menjamin posisi Skotlandia tetap berada di Uni Eropa. [Sumber : cnnindonesia.com].