Berita Bethel
Penulis: Pram (07/07/2019)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan pelaksanaan deportasi massal akan dimulai segera.


Trump, yang mengusung program imigrasi garis keras sebagai isu utama untuk masa kepresidenannya dan upaya untuk kampanye Pilpres 2020, menunda operasi keimigrasian bulan lalu setelah tanggal yang direncanakan bocor ke pers. Namun, pada Senin (1/7) Trump mengatakan akan ada pertemuan kembali untuk membahas operasi yang tertunda itu setelah Perayaan Kemerdekaan AS pada 4 Juli.

"Operasi ini akan dimulai secepatnya, namun saya tidak menganggap ini sebagai suatu razia. Kami hanya berupaya mengeluarkan orang-orang yang selama ini masuk ke Amerika secara ilegal," ujar Trump di Gedung Putih, Washington, Jumat (5/7) seperti dilansir dari Reuters.

Sebelumnya, bulan lalu Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE) menyatakan operasi razia imigran akan menargetkan para imigran tidak terdaftar yang baru saja tiba di negeri itu.

Di satu sisi dokumen pemerintah yang dikuak pekan ini oleh kelompok-kelompok pegiat hak migran memperlihatkan beberapa operasi razia ICE di masa lalu telah menangkap lebih banyak lagi imigran daripada yang telah ditetapkan sebagai sasaran.

Oleh karena itu, para kelompok pegiat hak migran menilai umumnya ancaman terhadap para migran tidak terdaftar akan membahayakan masyarakat dan ekonomi AS. Pasalnya hal tersebut akan menimbulkan ketakutan sehingga orang-orang dewasa kehilangan pekerjaan dan anak-anak bolos sekolah.

"Kita harus siap, bukan hanya ketika Trump mengumumkannya, tapi karena penangkapan itu terjadi setiap hari dan jumlah yang ditangkap terus bertambah," kata aktivis kelompok imigran New Mexico, Elsa Lopez.

Anggota kongres dari Demokrat saat mengunjungi stasiun Patroli Perbatasan El Paso, Texas pada awal pekan lalu menemukan fakta bahwa para migran ditahan dalam kondisi yang mengenaskan, bahkan para tahanan perempuan terpaksa harus minum dari toilet.

Namun, pernyataan anggota Kongres itu disangkah, dan guna menghilangkan apa yang disebut sebagai 'salah informasi', Kepala Agen Patroli Perbatasan Roy Villareal merilis video yang menunjukkan air segar tersedia dari pendingin dan keran di sel di suatu pusat pemrosesan migran sektor Tucson, Arizona."Kami tidak memaksa orang asing untuk minum dari toilet," kata Villareal.[Sumber : cnnindonesia.com].