Berita Bethel
Penulis: Pram (28/02/2019)
Berbuat Adil


Rakyat berharap terjadi perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya berkenaan dengan kehidupan ekonomi yang adil dan yang lebih baik sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan dan penderitaan rakyat.



Harapan ini bisa terwujud kalau para pemimpin bangsa dan seluruh komponen masyarakat berlaku adil.



Pesan ini juga pernah disampaikan oleh nabi Musa kepada Yosua di tengah-tengah kehidupan sejarah umat pilihan Tuhan, yakni Israel, tatkala tongkat estafet kepemimpinan segera akan beralih dari Musa kepada Yosua, maka Musa berpesan bahwa jika mereka tiba di Tanah Perjanjian, menetap di sana dan membangun kehidupan di segala bidang maka nilai-nilai keadilan harus diberlakukan dan menjadi warna yang melekat kuat serta mencolok di tengah-tengah kehidupan mereka.



Pesan itu tepatnya berbunyi demikian :"Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang benar" (Ulangan 16:19).



Dalam hubungannya dengan kepemimpinan tersebut untuk menata kehidupan masyarakan lebih lanjut maka mereka harus mengangkat para hakim. Hakim dalam kehidupan bangsa Israel kedudukannya tidak sama seperti yang ada dalam dunia peradilan modern.



Namun esensi bahwa kasus yang tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan akan dibawa kepada hakim dan melalui proses mendengar, menimbang maka hakim yang akan menyatakan atau memutuskan siapa yang benar dan sebaliknya.



Kemudian menjatuhkan sanksi bila ada kerugian di satu pihak dan mengupayakan perdamaian pada kedua belah pihak. Perbedaannya adalah bahwa para hakim Israel merangkap sebagai kepala suku. Contohnya Simson dari suku Dan menjadi hakim dan pemimpin umat dalam menghadapi segala ancaman.



Demikian pula Salomo dari suku Yehuda menjadi hakim sekaligus raja Israel.

Nilai-nilai keadilan, tidak hanya berlaku di dunia peradilan tetapi juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan bersama, bermasyarakat dan berbangsa, harus dipraktekkan dari hari ke hari.



Nilai-nilai keadilan mengandung makna bahwa dalam suatu kehidupan bersama bukanlah permainan untuk saling meniadakan. Artinya dalam mencapai berbagai keberhasilan hidup di bidang sosial-ekonomi, politik, pendidikan, budaya dan sebagainya tidak dicapai dengan mengorbankan orang lain.



Kehidupan masyarakat yang saling meniadakan dimotivasi oleh EGO. Ego dapat dipahami sebagai "Edging God Out" artinya "Meminggirkan Allah". Allah dengan segala hukum dan ketetapan-Nya tidak lagi menjadi nomor satu atau yang utama dan pertama dalam seluruh pertimbangan dan pengambilan keputusan.



Tetapi sebaliknya, kepentingan pribadi, dan mau menang sendiri-sendiri (egoisme dan egosentrisme) justru menjadi yang utama. Jika "Edging God Out" yang menjadi nomor satu maka yang akan muncul di dunia pengadilan resmi maupun dalam kehidupan sehari-hari adalah pemutarbalikkan fakta : yang hitam menjadi putih, dan yang putih menjadi hitam, yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar.



Faktor-faktor yang memudahkan "Edging God Out" bisa berkembang adalah nepotisme, kolusi dan korupsi atau suap. Karena ia kerabat, teman dekat atau saudara maka dibela. Suap adalah faktor utama melemahkan iman.



Fakta yang tidak dapat disanggah bahwa orang hidup membutuhkan uang, itu boleh dan dibenarkan, karena uanglah yang menjadi faktor penunjang untuk membuat sukses dalam seluruh perjuangan dalam mewujudkan cita-cita dan harapan.



Tetapi sayangnya orang tidak merasa cukup dan puas dan itu yang disebut serakah. Orang yang seperti itu adalah orang yang tidak pernah dekat dan membangun komunikasi atau berdoa secara benar kepada Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan akan berdoa seperti Agur bin Yake: "Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kau tolak sebelum aku mati, yakni: jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.



Biarlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata:Siapa Tuhan itu? Atau kalau aku miskin, aku mencuri dan mencemarkan nama Allahku" (Amsal 30:7-9).



Makna kita hidup dalam atmosfir keadilan adalah supaya kita mengalami janji-janji Allah, hidup dalam naungan dan berkat-berkat Tuhan. Berlakulah adil, tegakkanlah keadilan di mana saya anda berada.[Sumber : sabda.org/Foto : Istimewa].