Berita Bethel
Penulis: Pram (25/01/2017)
Pembawa Damai


II Korintus 5:19 "Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami".



Allah merindukan manusia sebagai alat-Nya untuk membawa damai (Mat 5:9). Hal ini juga berarti bahwa damai merupakan sifat Ilahi, pembawa damai merupakan karakter Allah.



Dalam hadirat Allah ada kedamaian, memiliki Yesus di hatinya berarti memiliki damai dalam hidupnya. Supaya hidup kita berlimpah damai sejahtera dan dapat menjadi pembawa damai, setidaknya ada 3 hal yang harus kita lakukan :



1. Berdamai dengan Allah (2 Kor. 5:19-21). Berdamai dengan Allah berarti menjalin hubungan dengan Allah. Tuhan Yesus telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya, artinya adalah bahwa Tuhan telah membuka tangan-Nya supaya kita kembali kepada-Nya (ay. 19).



Tetapi yang seringkali menjadi permasalahan manusia adalah: mereka lebih memilih sembunyi daripada menghampiri Tuhan (Kej.3:8-10). Damai sejahtera hanya dapat diraih oleh mereka yang mau datang pada Tuhan, mereka yang mau terbuka bagi Tuhan.



Keterbukaan adalah awal dari pemulihan (1 Yoh. 1:9; Maz. 32:5), dalam pemulihan ada damai sejahtera. Sesuatu hal yang disembunyikan tidak pernah membawa damai sejahtera. Sekecil apapun dosamu pada Tuhan, bereskan dengan Tuhan.



Sesuatu yang disembunyikan tidak akan pernah membawa damai sejahtera, maka kita harus senantiasa hidup dalam terang kebenaran Tuhan (Yes. 32:17) dan hidup seturut perintah Tuhan (Yes. 48:18). Jika kita melakukannya maka kita akan disebut anak-anak Allah (Mat. 5:9), dan mereka yang disebut berbahagia.



2. Berdamai dengan sesama (1 Tes. 5:13-15). Selain berdamai dengan Tuhan, kita juga harus berdamai dengan sesama. Bahkan dalam Mat. 5:23-24, manusia harus berdamai dulu dengan sesamanya baru dapat menghampiri Allah.



3. Berdamai dengan sesama hanya bisa didasari oleh kasih Kristus. Jika kita tidak memiliki kasih Kristus, kita tidak pernah akan bisa berdamai dengan sesama. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya kita bisa berdamai dengan sesama :



a. Menasihati dengan kasih, bukan menghakimi. b. Usahakan keadilan dan kebenaran (ay. 14c, d). c. Jauhi yang jahat (ay. 15, 22). d. Bersukacita dan Mengucap syukur senantiasa (ay. 16, 18; Kol. 3:17).



4.  Berdamai dengan diri sendiri (Rm. 5:1). Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti bahwa musuh kita adalah diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri artinya adalah menerima diri sendiri apa adanya, mengucap syukur atas kasih karunia Tuhan dalam diri sendiri.



Menerima diri sendiri dengan rasa syukur adalah awal dari kita bisa menerima sesama kita dan Tuhan. Kita berharga dimata Tuhan, sehingga melalui iman kita pada Yesus Kristus kita dibenarkan dan diselamatkan.



Karena kita dibenarkan ar tinya kita mempunyai damai sejahtera Allah. Apapun permasalahan hidup kita sesungguhnya tidak akan bisa menghilangkan damai sejahtera yang Tuhan berikan karena adajaminan keselamatan dalam Yesus. [Sumber : R.A.B - Pdm. Hiruniko Ruben/Foto : Istimewa].



“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”