Berita Bethel
Penulis: Pram (07/10/2016)
Percaya Walau Tidak Melihat


“Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya,sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yohanes 20:25).



Kalimat "Percaya Walau Tidak Melihat" muncul saat Tuhan Yesus memberi komentar atas sikap Tomas yang menuntut bukti (Yoh. 20:24). Rupanya, Tomas memiliki masalah khusus dengan percayanya (Yoh. 11:14-16). Ironis memang sudah sedemikian lama mengiring Tuhan ke mana pergi, masih juga belum bisa mempercayai Tuhan dengan santun.



Di mana ada keyakinan, pada saat yang sama keraguan juga mendampinginya. Mengapa demikian? Manusia adalah mahkluk fisik, di mana segala sesuatu diukur dari apa yang kelihatan. Ada hal prinsip yang harus dipahami, bahwa Allah itu Roh yang sampai kapan pun tidak akan kelihatan.



Kitalah yang harus menyadari siapa kita di hadapan-Nya, itulah iman. Iman yang dewasa adalah iman yang dapat dipercayai Tuhan, bukan lagi memercayai Tuhan, apalagi dengan menuntut bukti fisik.



Penyerahan diri secara total bahkan nyawa seperti Lazarus itu standar yang benar, bukan seper ti Tomas di mana sampai pada hari Tuhan bangkit masih menuntut bukti. Tetapi puji Tuhan, sejarah mencatat, akhirnya Tomas dapat membuktikan kalimatnya, yaitu mati bersama Tuhan di India sebagai pahlawan Injil.



Mempercayai Tuhan tanpa menuntut bukti merupakan tolok ukur kedewasaan iman seseorang. Seorang calon mempelai akan menjalani pernikahannya tanpa harus menuntut bukti di awal pernikahannya, tetapi dituntut untuk mempercayai calon pasangannya dengan komitmen saling memberi kebahagiaan, bukan mencari kebahagiaan.



Tuhan telah menyelesaikan bagian-Nya dengan sempurna, yaitu demi membahagiakan calon mempelai-Nya, Ia telah korbankan nyawa-Nya. Lalu, apa yang sudah kita berikan kepada-Nya sebagai bukti kesediaan kita untuk menjadi calon mempelai-Nya?.



Sangat tidak wajar jika kita masih menuntut bukti, sementara kita tidak pernah bersedia membuktikan percaya kita kepada-Nya. Satu hal yang membuat seseorang menuntut bukti akan adanya Tuhan, yaitu mendahulukan keinginannya yang dianggap sebagai kebutuhan utama.



Seseorang harus tahu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jika hidup ini hanya di dasarkan kepada yang kita butuhkan, maka kita tidak kuatir dan menuntut pembuktian lagi.



Semangat percaya yang kita kobarkan hendaknya adalah berserah total kepada apa yang Tuhan kehendaki. Seringkali Tuhan membawa kita kepada lorong gelap yang seakan Dia tidak ada di sana, sebenarnya momen itu digunakan Tuhan untuk melatih kita dapat dipercayai dan mempercayai-Nya.



Jangan menjadi minder ketika ada orang-orang di luar sana mampu membuktikan tuhannya hebat dengan membuat mujizat yang spektakuler. Camkan bahwa, kehebatan Tuhan kita bukan terletak pada mujizat yang Ia perbuat.



Tetapi kepada komitmen-Nya di mana Ia mau mengosongkan diri-Nya dari keserupaan-Nya dengan Allah Bapa dan memilih mengambil rupa manusia dan sebagai hamba sampai taat dan mati kayu salib (Fil.2-10).



Dengan memahami kenyataan keagungan Tuhan ini, bagaimanakah sikap kita? Apakah kita masih menuntut bukti? Segera putuskan dengan bijak.[Sumber : R.A.B.-Pdt. Dr. Erastus Sabdono/Foto : Ilustrasi].



“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, tanpa menunggu bukti-bukti”.