Berita Bethel
Penulis: Pram (01/10/2016)
Suka Cita di Tengah Permasalahan


“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah” (Filipi 4:4).Mungkin sulit bagi kita untuk bersuka-cita, bahkan seringkali sebagai orang percaya, kita lupa untuk bersukacita dan karena apa kita bersukacita.



Majunya peradaban ditandakan begitu banyaknya krisis dan masalah yang menghampiri kita disetiap harinya, sehingga seringkali kita bersungut-sungut dan tidak bersukacita. Surat Paulus kepada jemaat di Filipi ditulis ketika Paulus berada dalam penjara.



Dia menasehati jemaat di Filipi karena tekanan yang mendera jemaat tersebut, baik itu aniaya, krisis makanan, dan juga kehidupan moral yang rusak sehingga paulus berkata “Tuhan mereka adalah perut mereka” (Fil. 3:19). Disaat keadaan sangat buruk sekalipun, yang menarik disini adalah teladan Paulus yang dapat tetap bersukacita walaupun dirinya sendiri berada dalam penjara.



Bersukacita adalah hal yang gampang-gampang susah, tetapi ini merupakan hal yang sangat diinginkan Tuhan. Sebagai orang percaya kita seharusnya bersukacita. Untuk dapat bersukacita dalam segala keadaan, tentu kita harus memiliki dasar yang benar. Oleh karena itu, mari kita pelajari apa saja dasar firman Tuhan supaya kita dapat terus bersukacita :



1. Kita bersukacita, karena kita berada dalam rencana Tuhan Yesus (Kol. 1:12-14). Berada dalam rencana Tuhan berar ti kita diperhatikan-Nya, berada dalam lindungan-Nya, dan mempunyai masa depan yang cerah.



Ketika anda ambil bagian dalam Kristus, anda sudah berada dalam rencana-rencana- Nya, dan waktu anda tidak berlaku lagi, melainkan waktu Allah (kairos) yang berlaku. Maka dari itu ketika anda mengalami masalah, seperti pekerjaan, perjodohan, keuangan dll, bersukacitalah terlebih dahulu karena Tuhan telah menetapkan jalan keluar yang indah tepat pada waktu-Nya.



2. Kita bersukacita, karena kasih setia Allah yang sangat besar (Mzm.31:8). Daud adalah raja yang diurapi Allah, tetapi sebagai raja dia tidak lupa untuk bersukacita, walaupun sebagai raja dia punya segalanya, tetapi dia tahu hanya Allah saja yang dapat membuatnya bersukacita.



Dalam keadaan apapun, sesungguhnya Dia tidak pernah tinggalkan kita. Bahkan sesungguhnya Tuhan Yesus sangat senang membuat kita terkagum-kagum. Ketika engkau mulai memperhatikan sekelilingmu dan melihat kebesaran Tuhan serta pekerjaan tangan-Nya dalam hidup kita.



Sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita, karena ternyata Allah sangat mengasihi kita. Maka dari itu luaskan pandangan-Mu, jangan lihat masalahmu yang kecil, tetapi lihatlah Tuhan yang besar.



3. Kita bersukacita, karena kita diberi kuasa menjadi anak-Nya (Yoh. 1:12). Adalah sukacita yang besar ketika mengetahui bahwa kita diangkat menjadi anak Tuhan, raja segala raja. Sebagai anak tentu kita diberi kuasa, berhak untuk meminta (Mat. 7:7; Yoh. 15:7) dan menjadi ahli waris kerajaan Sorga (Rm. 8:17).



Sesungguhnya masalah, keadaan, tekanan, sakit penyakit sekalipun tidak akan mengubah status kita sebagai anak Allah, jika demikian berar ti tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita.



Oleh karena itu, mari jadikan sukacita menjadi warna kehidupan kita sehari-hari. Hidup kita akan menjadi berkat bagi sesama ketika sukacita menjadi identitas kita. Belajarlah dari Paulus yang tetap bersukacita walaupun di tengah permasalahan.[Sumber : R.A.B-Pdm. Hiruniko Ruben/Foto : Ilustrasi].



“Sukacita bukanlah hanya sebuah keadaan, tetapi merupakan sikap hati”