Berita Bethel
Penulis: Pram (24/06/2016)
Ciri Gereja yang Bertumbuh


Pertumbuhan gereja terbagi menjadi dua bagian yaitu kuantitas (jumlah jemaat) dan kualitas (dewasa dalam iman). Hal itu ditegaskan Pdt. Dr. Japarlin Marbun selaku Ketua Umum Bamag Nasional dan Ketua Umum BPH GBI .



Ia berbicara sebagai nara sumber yang mengusung tema "Pertumbuhan Gereja" di acara "Revival & Prophetic Fire" di Gereja City Blessing, Depok Lama, Jawa-Barat (Selasa, 20/10). Kegiatan ini digelar Bamag (Badan Musyawarah Antar Gereja) Depok.



Terdapat banyak nats dalam Alkitab yang menuliskan tentang pertumbuhan gereja. Salah satunya yaitu Amanat Agung, Matius 16:18, KIS 2:41-47 dan KIS 1:8. Demikian katanya, saat masuk ke isi paparannya. Pertumbuhan gereja pada zaman Rasul-rasul menurut Alkitab yaitu dimulai dengan jemaat yang menyatu alias jemaat mula-mula; jemaat bertambah; geografis pelayanan yang semakin meluas; pemberitaan kabar baik bagi orang yang belum percaya.



Dimensi pertumbuhan gereja berdasarkan Amanat Agung dan KIS 1:8 dan terbagi menjadi dua lingkup yaitu ekstensif (Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi dan pertambahan jiwa) dan intensif (tahap-tahap kedewasaan jemaat seperti pembaptisan, berbuah sehingga muncul model pelayanan).



Dari hasil pengamatannya di ladang Tuhan, seiring dengan pertumbuhan jemaat, maka mereka akan terus bertumbuh dan akhirnya mereka melayani. Pdt. Japarlin memberikan ilustrasi seperti orang tua yang mempunyai anak, kemudian dirawat, diberikan makan sehingga anaknya bertumbuh dewasa.



Anak tersebut kelak akan menikah, selanjutnya ia mempunyai anak. "Ada waktunya diberi makan, setelah dewasa, ingin memberi makan. Rohani sama dengan jasmani," ujarnya.



Dengan nada berpesan, ia menambahkan jika jemaat yang sudah waktunya memberi makan orang lain (melayani), namun ia tidak diberikan kesempatan maka jemaat tersebut akan pindah ke gereja lain. "Berikan kesempatan kepada jemaatr untuk memberi makan (melayani) orang lain, hal ini sebagai langkah untuk mendewasakan jemaat," tegasnya.



Selanjutnya, ia mengutip pandangan Christian A. Schwarz tentang delapan ciri gereja yang bertumbuh yaitu pemimpin memberdayakan jemaat; pelayanan berorientasi kepada karunia masing-masing; kerohanian yang haus dan antusias untuk melayani (jemaat dan Tuhan); struktur pelayanan tepat guna (semua jemaat bisa terlibat dalam pelayanan); ibadah yang membangkitkan inspirasi; bisa menjawab kebutuhan setempat; membangun hubungan yang penuh kasih.



Berdasarkan pandangan diatas, Pdt. Japarlin menjabarkan secara ringkas ciri gereja yang bertumbuh yaitu gereja dengan dasar Alkitab/FT, bukan materi-materi motivator; mempunyai kepemimpinan yang baik; melakukan doa, pujian dan penyembahan; perlu melakukan pendekatan dengan konteks setempat; organisasi gereja tidak ketat (kaku); pengembangan jejaring dengan gereja-gereja lain yang memiliki potensi dan karunia berbeda; pengembangan pemberdayaan ekonomi jemaat, sehingga tercipta satu kesatuan antara kebutuhan jasmani dan rohani; memiliki aspek hukum dan legalitas.



Tentang pertumbuhan jemaat era zaman jemaat mula-mula, Pdt. Japarlin memerinci pertumbuhan jemaat secara jumlah dan mutu yaitu 12 - 120 - 3000 - 5000 jiwa. "Semua itu bisa terjadi adalah hasil pemberitaan FT. Tersebarnya FT menghasilkan penambahan jumlah murid, bahkan para imam-imam menyerahkan dirinya untuk percaya kepada Kristus, " tegasnya. Ia mengutip nats-nats berikutnya seperti KIS 2 ayat 41-42; ayat 43-44 dan ayat 45-47.



Ketum Bamag Nasional ini meyakini pertumbuhan gereja erat dengan pemimpinnya (Gembala), sesuai dengan pandangan Peter Wagner. Menurut Peter Wagner, seorang pemimpin harus dinamis sebab ia adalah sosok yang mampu mempengaruhi orang lain; memiliki visi yang besar; memiliki iman; mampu mengerahkan jemaat; memiliki karakter yang baik; perlu kuasa RK; disiplin dalam doa; mampu merumuskan tujuan dengan jelas serta disiplin dalam doa.



Seorang pemimpin harus memiliki visi ke arah kota-desa (Matius 9:35); manusia (Matius 9:36); PI (Matius 9:37-38). Pemimpin penuh dengan Roh Kudus (terkenal baik dan penuh dengan hikmat). Keteladanan pemimpin terdiri dalam hal perkataan, perilaku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Pemimpin juga harus memiliki sasaran, mengasihi, berdoa, bersaksi dan mengutus.



Dari sisi hati Gembala, Pdt. Japarlin menekankan tentang perlunya seorang pemimpin berhati bapa yaitu mengerti kebutuhan anak-anaknya, penuh kasih dan pengorbanan, mengenali watak, pribadi dan ciri khas jemaat.



Diakhir paparannya, ia memberikan resume yakni gereja harus berbasis FT; gereja hadir untuk menggenapi Amanat Agung; gereja yang bertumbuh adalah bukan perpindahan jemaat; gereja memiliki banyak faktor, bukan faktor tunggal; gereja yang sehat akan menghasilkan multiplikasi. Pembicara seminar sesi selanjutnya ialah Ps. Ernest Thathapudi, Gembala Manna Jubilee Church, Andhra Pradesh, India.