Berita Bethel
Penulis: Pram (14/01/2019)
Fokusmu Menentukan Imanmu


“Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri.



Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.



Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”.



Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”.



Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.” (Matius 14:22-32).



Jon Jorgenson bercerita bahwa dia seringkali mengadakan Camp Rohani untuk anak-anak remaja. Seringkali setelah camp selesai dan anak-anak pulang ke rumahnya masing-masing, ada beberapa anak yang mengirimkan e-mail kepada Jon, “Luar biasa sekali camp-nya, saya merasa iman saya dikuatkan.”



Tentu mendapatkan e-mail seperti itu membuat Jon senang, namun permasalahannya adalah apa yang terjadi beberapa bulan setelahnya; karena beberapa bulan setelahnya, seringkali anak yang sama mengirimkan e-mail yang bertuliskan, “Jon, iman saya rasanya sudah lemah kembali, saya butuh ikut worship night atau camp rohani yang dapat membangkitkan iman saya kembali.”



Hal ini menunjukkan permasalahan yang seringkali kita miliki: “Iman kita hanya berdasarkan perasaan hype dari sebuah event, dimana seharusnya iman kita berakar pada pribadi Yesus Kristus.”



Saya percaya worship night, camp rohani, dan berbagai macam event rohani besar adalah sesuatu yang baik dan hadirat Tuhan sungguh nyata pada acara-acara itu, namun saya juga percaya bahwa iman bukan berasal dari ‘perasaan’ yang timbul dari event besar, melainkan iman terbentuk dari fokus yang tepat di dalam keseharian kita.



Saya percaya bahwa iman merupakan sebuah pilihan kemana kita mau meletakkan pandangan kita sehari-hari.



Pada Firman yang kita baca hari ini, kita menemukan bagaimana Petrus berjalan baik-baik saja di atas air ketika dia meletakkan fokusnya kepada Yesus. Namun, ketika dia mulai fokus kepada angin dan ombak yang ada di sekitarnya, dia mulai takut dan tenggelam.



Begitu pula di dalam kehidupan kita, jika kita meletakkan fokus kita kepada pribadi Yesus, janji-janji Yesus, dan kasih Yesus pastinya iman kita akan kuat.



Tetapi jika kita mulai mengubah fokus kita dimana kita tidak lagi fokus kepada Yesus melainkan kepada hal-hal lain (uang, perempuan, keadaan buruk, dll), maka akan sangat mudah untuk kita kehilangan iman kita.



Teman-teman, pesan pada renungan ini sangatlah sederhana: “Kembali letakkanlah pandanganmu pada Yesus. Dia lah sumber iman kita.” Kita dapat mengembalikan fokus kita kepada Yesus dengan cara membaca Firman-Nya di dalam keseharian kita.



“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.



Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:1-2). [Sumber : gracedepth.com].