Berita Bethel
Penulis: Pram (10/09/2018)
Kepemimpinan Rohani dan Kepemimpinan Sekuler [ III - Selesai ]


III.Otoritas Rohani dan Otoritas Sekuler. Prinsip kedua yang membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler adalah jenis otoritas yang dimiliki pemimpin.



Tidak dapat disangkal bahwa seorang pemimpin dipercayakan otoritas rohani atas para pengikutnya. Tetapi mengatakan seseorang itu pemimpin rohani karena ia memiliki otoritas atas sekelompok umat Tuhan, tanpa mempertanyakan jenis otoritas yang dimilikinya, adalah kesimpulan yang terlalu cepat.



Kalau demikian bagaimana menentukan jenis otoritas yang dimiliki seorang pemimpin ? Apa artinya otoritas rohani yang menjadikan seseorang pemimpin rohani dan apa itu otoritas sekuler yang membuat seseorang menjadi pemimpin sekuler ?.



Sebelum kita menjelaskan otoritas rohani, mari kita melihat Kejadian 10 : 9 untuk menjelaskan otoritas sekuler. Didalam ayat ini tertulis. “Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa dihadapan Tuhan.



Nimrod adalah orang yang mula-mula sekali berkuasa (memiliki otoritas) di bumi. Otoritas Nimrod cukup besar karena kerajaannya cukup luas. Kerajaannya dimulai dari Babel, Erekh, Akad di tanah Sinear dan selanjutnya ditambah dengan kota-kota besar di negeri Asyur.



Tetapi kita perlu melihat jenis otoritas yang dimiliki Nimrod. Perkataan dihadapan Tuhan dalam ayat diatas seperti mengungkapkan bahwa Nimrod seorang hamba Tuhan yang hidup dihadapanNya, namun Ray Prinzing dalam buku Whispers of the Mysteries, hal 14, menemukan bahwa Strongs Concordance mengungkapkan fakta mengenai kata Ibrani untuk dihadapan mempunyai arti yang sangat bervariasi.



Dalam Kejadian 10 : 9, seperti juga misalnya dalam Bilangan 16 : 2, kata Ibrani untuk “dihadapan secara literal berarti memberontak. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti “ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan. Jadi otoritas yang dimiliki Nimrod bukan berasal dari Tuhan karena ia sendiri adalah seorang yang memberontak dan melawan Tuhan.



Dengan penjelasan ini kita dapat simpulkan bahwa jenis otoritas yang dimiliki Nimrod adalah otoritas sekuler, yaitu otoritas yang ia peroleh semata-mata karena ia seorang pemburu yang gagah perkasa. Otoritasnya diperoleh dari kemampuan dirinya sendiri.



Sebaliknya apakah maksudnya otoritas rohani ?. Contoh Musa sangat baik untuk menjelaskan ini. Musa adalah pemimpin Israel yang memiliki otoritas rohani atas umatNya. Sebelum pengalamannya di Padang Gurun, Musa mencoba menjadi pemimpin atas Israel dengan membunuh seorang Mesir yang pada waktu itu bertengkar dengan seorang Israel.



Tetapi ketika otoritasnya ditantang, Musa melarikan diri ke Padang Gurun (Kej 2: 14-15). Musa mencoba memperoleh otoritas oleh usaha tangannya sendiri dengan membunuh seorang Mesir. Otoritas yang diperoleh dengan cara ini bukanlah otoritas rohani.



Tetapi setelah Musa melewati pengalaman padang gurun dan mendapatkan pewahyuan Tuhan melalui nyala api yang keluar dari semak duri, maka ia kembali dari Mesir dengan tongkat Allah (melambangkan otoritas rohani) ditangannya. Jadi otoritas rohani didapatkan oleh seorang pemimpin melalui pengalaman disiplin Tuhan (padang gurun) dan juga pewahyuan Tuhan (pengalaman semak duri).



Melalui uraian diatas, kita dapat membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler. Pemimpin rohani adalah ia yang memiliki “otoritas Musa, sedangkan pemimpin sekuler adalah dia yang memiliki “otoritas Nimrod.



Namun ada hal yang menarik diungkapkan Firman Tuhan dalam Wahyu 17 : 3-5, dimana perempuan (melambangkan gereja) disebut Babel besar (kota dimana “otoritas Nimrod berlaku). Yohanes melihat bahwa ada saat dimana didalam gereja terdapat otoritas nimrod.



Itu sebabnya, walaupun didalam gereja, kadang-kadang kita sulit membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler. Semoga Tuhan membersihkan gereja dari otoritas Nimrod dan menegakkan “otoritas Musa demi kemuliaanNya.



IV.Kesimpulan. Banyak orang percaya bahwa jatuh bangunnya suatu usaha atau gerakan dalam bidang apapun juga, tergantung dari pemimpinnya. Hanya saja untuk bidang rohani, kita perlu berhati-hati dalam menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan.



Untuk bidang rohani dibutuhkan kepemimpinan rohani dan kepemimpinan rohani hanya dapat terjadi kalau diberlakukan prinsip-prinsip rohani. Jangan sampai kita terjebak dan mencampur-adukkan prinsip-prinsip rohani dan prinsip-prinsip sekuler.



Didalam tulisan ini telah diuraikan dua prinsip yang menjadikan seseorang disebut pemimpin rohani yaitu prinsip penyangkalan diri (Self Denial) dan prinsip “otoritas Musa. Kedua prinsip inilah yang akan membedakan pemimpin rohani dari pemimpin sekuler.[Sumber : sabda.org/Foto : Istimewa].