Berita Bethel
Penulis: Pram (03/07/2018)
Memandang Berkat Tuhan dengan Benar


Yesus mengatakan hal-hal seperti, "Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Matius 8:20), dan "jadi, yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama akan menjadi yang terakhir" (Matius 20:16), dan "setiap orang yang diberi banyak, dituntut banyak.



Dan, mereka yang dipercayakan lebih banyak akan dituntut lebih banyak lagi" (Lukas 12:48), dan "sebab, bangsa-bangsa lain mencari-cari semua ini dan Bapa surgawimu tahu bahwa kamu membutuhkan semua ini" (Matius 6:32).



Apa tujuan Yesus ketika mengatakan hal-hal semacam itu? Apakah itu sekadar "pembunuh/perusak kesenangan"? Apakah Dia ingin memastikan kita sengsara ketika berada di sini, di bumi, sehingga kita akan merindukan surga? Atau, apakah karena Dia mengetahui apa yang benar-benar akan membuat kita bahagia ?.



Diberkati berarti ...Salah satu bagian Kitab Suci favorit saya adalah Ucapan Bahagia dalam Matius 5:1-12, yang di dalamnya Yesus menuliskan apa arti dari diberkati. Hal-hal itu tentu bukanlah apa yang terlintas dalam pikiran saya ketika berpikir tentang diberkati atau ketika saya berdoa agar orang lain diberkati.



Ingatlah dengan semua doa masa kecil, "Berkati Ibu, Ayah, dan Bibi Sue?" Kita tidak tahu apa yang kita katakan! Kita sesungguhnya berkata, "Biarlah mereka menjadi miskin dalam roh, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, menjadi pembawa damai, dan dianiaya."



Jadi, bagaimana mungkin hal-hal semacam itu mengarah pada kebahagiaan ?. Sepertinya, hal-hal itu malah lebih banyak membawa kita menuju kebalikan dari kebahagiaan. Akan tetapi, Ucapan Bahagia memberi tahu kita satu hal dengan jelas.



Kita tidak pernah dapat merasa bahagia ketika kita menjalani kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. Kita mungkin tertipu untuk berpikir bahwa kita bahagia untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya, itu tidak akan berlaku bagi kita, sebab kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam hubungan dengan Pencipta kita.



Hanya Allah yang membuat kita tahu apa yang benar-benar akan membuat kita bahagia serta memberi kepuasan dalam hidup. Kita harus mencapai akhir dari diri sendiri dan awalan yang dari Allah untuk mendapatkan kepuasan seumur hidup. Dan, itu hanya dapat terjadi dalam pewahyuan dan transformasi ilahi melalui firman Allah dan Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.



Ini adalah "mutiara yang sangat berharga" (Matius 13:46), yang layak didapatkan dengan menjual segala sesuatu. Pada akhirnya, ini adalah rahasia kepuasan sejati.Menggali Lebih Dalam. Apakah Anda pernah merasa lapar atau haus secara fisik mungkin setelah sakit, latihan yang intens, atau selama musim panas ?.



Jika demikian, pikirkan kembali pengalaman tersebut. Baca Mazmur 63:1, Matius 5:6, dan Yohanes 6:35. Menurut Anda, apa arti dari menjadi lapar dan haus akan Allah? Mengapa hal itu penting untuk menjadi puas dengan kehidupan ?.



Lakukan Sesuatu dari Sana. Luangkan waktu untuk membaca Ucapan Bahagia (Matius 5:1-12) dan mintalah Allah memberi Anda wawasan tentang apa yang dimaksud oleh hal-hal tersebut dalam hidup Anda.



Berdoalah agar Allah memberikan Anda hasrat akan diri-Nya yang menjadi tujuan/fokus/perhatian Anda. Mintalah kemenangan atas apa pun yang menghambat Anda dari menginginkan-Nya dalam beberapa hal/cara.



Dan, mintalah bahwa Allah akan memberikan Anda pengertian sejati tentang arti dari merasa puas. [Sumber : sabda.org/Foto : Istimewa].