Berita Bethel
Penulis: Pram (16/11/2016)
Kehilangan Semangat Pengabdian atau Sebaliknya ?


"Yesus berkata kepadanya, 'Juallah segala yang kaumiliki ... kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.' Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, ...." (Lukas 18:22-23). Pernahkah Anda mendengar Tuhan mengatakan sesuatu yang sangat pelik bagi Anda?. Jika belum, saya meragukan apakah Anda pernah mendengar Dia mengatakan sesuatu kepada Anda.



Yesus mengucapkan teramat banyak hal kepada kita dan kita mendengar, tetapi sesungguhnya kita tidak mendengarkan-Nya. Dan, sekali kita mendengar Dia berbicara, kata-kata-Nya sungguh keras dan tidak mengenal kompromi.



Yesus tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun bahwa pemimpin muda yang kaya dalam nas ini harus melakukan hal yang dikatakan-Nya kepadanya, dan juga Yesus tidak berusaha memegangi pria ini tinggal bersama Dia.



Ia hanya berkata kepadanya, "Juallah segala yang kaumiliki ... kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Tuhan tidak pernah membujuknya,  Dia hanya mengucapkan kata-kata paling keras yang pernah didengar telinga manusia, dan kemudian membiarkannya sendiri.



Pernahkah saya mendengar Yesus mengatakan sesuatu yang sulit dan keras kepada saya? Sudahkah Dia mengucapkan sesuatu secara pribadi kepada saya yang telah saya dengar dan tangkap dengan penuh perhatian?.Orang muda ini mengerti apa yang diucapkan Yesus. Dia mendengarnya dengan jelas, menyadari dampak sepenuhnya dari makna kata-kata itu, dan hal itu menggedor-gedor hatinya.



Dia pergi dengan sedih dan tidak mengindahkannya. Dia datang dengan kobaran semangat dan tekad, tetapi kata-kata Yesus melumpuhkan semangat tersebut. Bukannya menghasilkan pengabdian dengan penuh semangat kepada Yesus, kata-kata Yesus menghasilkan kehilangan semangat yang dalam bagi dirinya. Dan, Yesus tidak mengejar dia agar kembali, tetapi membiarkannya pergi!.



Tuhan tahu benar bahwa bila perkataan-Nya didengarkan dengan sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah, cepat atau lambat. Yang menyedihkan, sebagian dari kita merintangi perkataan-Nya mengerjakan buah dalam hidup kita saat ini.



Saya bertanya-tanya apakah yang akan kita katakan ketika akhirnya kita memutuskan untuk mengabdikan diri kepada-Nya dalam hal khusus tersebut? Satu hal yang pasti, Dia tidak akan melemparkan kegagalan masa lalu kita kembali ke wajah kita.[Sumber : e-Leadership/My Utmost for His Highest-Oswald Chambers/Foto : Istimewa].