Berita Bethel
Penulis: Pram (25/10/2016)
Banjir Kota Bandung Terparah dalam 20 Tahun Terakhir


Bencana banjir yang terjadi di Kota Bandung, Senin 24 Oktober 2016 merupakan banjir yang paling parah sejak 10 sampai 20 tahun terakhir ini. Banjir kota atau urban flood semacam ini hampir selalu mengancam kota‐kota besar di Indonesia. Lebih‐lebih secara geomorfologi, Kota Bandung berupa cekungan yang dikelilingi oleh banyak pegunungan di sekitarnya.



Hal itu menjadi catatan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) atas banjir di Kota Bandung kemarin. "Sebagai satu kesatuan sistem hidrologis di mana semua air hujan yang jatuh di atasnya akan mengalir melalui sistem sungai dan sistem drainase kota menuju ke “single outlet” dan akhirnya sebagian besar limpasan permukaan (surface run off) tersebut menuju ke sungai dan Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur," kata Ketua Umum IABI Sudibyakto di Jakarta, Selasa, 25 Oktober 2016.



Adanya tiga waduk besar dalam satu sistem daerah aliran sungai (DAS) itu, menurut Sudibyakto, dapat mengurangi risiko banjir di bagian hilir DAS Citarum seperi Purwakarta dan sekitarnya.



Sudibyakto menjelaskan, faktor‐faktor penyebab banjir antara lain faktor cuaca (hidrometeorologi), faktor kondisi biogeofisik permukaan lahan, dan faktor manusia. Hujan dengan intensitas sangat tinggi (>60 mm/jam), kata Sudibyakto, berlangsung singkat akan menyebabkan lahan tidak mampu menyerap (infiltrasi) lebihan air hujan (excess rainfall). Sehingga kapasitas infiltrasi tanah lebih kecil daripada intensitas hujan.



Sudibyakto menjelaskan, curah hujan yang berlangsung sangat singkat, intensitas sangat tinggi, dan merata kejadiannya, akan menyebabkan debit sungai dan saluran drainase kota terlampaui. "Sehingga terjadi banjir besar yang mampu menerjang apa saja yang dilewatinya. Sistem drainase Kota Bandung yang bertopografi miring mendukung sistem pengatusan banjir. Sehingga banjir berlangsung cepat," katanya.



Perubahan tata guna lahan dan tata ruang wilayah hulu DAS Citarum juga berpengaruh besar terhadap banjir Kota Bandung. Urbanisasi dan munculnya kompleks perumahan kumuh di sepanjang sungai juga menyumbang debit banjir. Sudibyakto mengatakan ada korelasi positif antara pertambahan jumlah penduduk kota dan frekuensi banjir.



Dalam konteks banjir kota, kata Sudibyakto, ada kecenderungan terjadi dengan periode ulang (return period) yang semakin memendek (semakin sering terjadi). Terlebih lagi, kata Sudibyakto, ada kemungkinan faktor pengaruh kejadian hujan ekstrim sebagai isu perubahan iklim.



Sudibyakto menegaskan sangat penting ada Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota. Namun, sejauh ini Pemkot Bandung belum membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instrumen kelembagaan lainnya yang terkait dengan kebencanaan.



Sekalipun sudah sering dilakukan pelatihan kebencanaan (kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan kembali termasuk relokasi) oleh banyak pihak, Sudibyakto menilai hal itu belum satu kesatuan. Satu kesatuan yang dimaksudnya, terintegrasi dalam Rencana Kontijensi (Rekon) dan Rencana Operasi (Renop), serta pengadaan yang efektif Sistem Peringatan Dini Cuaca Ekstrim (Accuweather dan Info BMKG) yang berbasis masyarakat.



Menurut Sudibyakto, review dan evaluasi spasial terhadap Rencana Detil Tata Ruang skala besar (1:5000 atau 1:10.000) perlu dilakukan secara menyeluruh dan bertahap sesuai dengan visi kota Bandung. Penegakan aturan peruntukan lahan juga menjadi suatu kebutuhan agar Bandung Bebas Banjir di kemudian hari.



"Perilaku masyarakat kota termasuk para pimpinan wilayah harus berubah menjadi pelaku/aktor dalam mengurangi risiko banjir kota (community‐based flood risk management) secara serentak dan berkesinambungan dengan fokus pada perbaikan ekosistem kota (sustainable eco‐based disaster management)," kata Sudibyakto menegaskan.[Sumber naskah : pikiran-rakyat.com/Foto : http://www.kwikku.com].