Berita Bethel
Penulis: Pram (24/10/2016)
Lonceng Gereja Berbunyi di Kota Kristen Irak Usai ISIS Pergi


Pertama kalinya dalam dua tahun, Hussam Matteh beribadah di tanah leluhurnya setelah pasukan keamanan Irak pekan ini merebut kembali Bartella - kota Kristen Irak pertama yang direbut kembali dari cengkeraman kelompok militan Islamic State (ISIS).



Matteh dan segelintir pejuang dari milisi kecil Kristen yang dikenal sebagai "Pasukan Darat Nineveh" bergabung dengan pasukan kontraterorisme elite Irak di sekitar Gereja Suryani Ortodoks St Matius setelah merebut kembali Bartella.



Mereka membunyikan lonceng gereja sewaktu baku tembak terdengar di kejauhan dan gumpalan awan yang berasal dari asap hitam ledakan membubung di cakrawala. Para pejuang, yang telah bersumpah untuk bertahan dan membebaskan daerah itu dari cengkeraman tangan ISIS, segera beribadah di depan altar yang berbekas menghitam oleh ledakan.



Mereka membersihkan debu sebelum duduk di bangku-bangku. Lembar-lembar halaman naskah kuno berserakan di lantai."Kami merasakan sesuatu yang tidak bisa Anda jelaskan,betapa bahagianya kami. Kami sekarang kembali ke rumah di tanah nenek moyang kami, gereja kami, dan warisan kami," kata Matteh, matanya merah berbingkai air mata, seperti dilansir Financial Times, Minggu (23/10/2016).



Kotanya itu adalah satu di antara pemukiman Kristen tertua di dunia. "Saya ingin memberitahu warga: Jangan pergi. Tetap di sini. Tidak ada alasan untuk melarikan diri dari Irak dan pergi ke luar negeri. Ini tanah kami, kami memilikinya kembali dan dari sekarang, kita akan menjadi orang-orang yang mempertahankannya," serunya.



Kampanye untuk membebaskan kota kedua Irak, Mosul, masih berlangsung. Pasukan Irak kini maju ke dataran Nineveh yang diperebutkan dengan sengit  salah satu wilayah Kristen yang paling kuno di dunia dan sebuah mosaik religius meliputi etnis minoritas Kristen, Turkmen, Yazidi heterodoks, dan kelompok etnis kecil seperti Shabak. Mereka semua melarikan diri ketika ISIS datang.



Banyak yang merasa disalahkan oleh pasukan Irak dan Kurdi yang melarikan diri tatkala ISIS menyerbu kota-kota mereka. Sampai-sampai mereka mengungsi ke Eropa atau Amerika Serikat (AS) dengan alasan hanya sedikit harapan bagi kaum minoritas yang berjuang untuk bertahan hidup di daerah itu setelah invasi AS ke Irak pada 2003 memicu pertumpahan darah sektarian.[Sumber : metrotvnews.com].