Berita Bethel
Penulis: Pram (01/08/2016)
Menolong Anak Korban "Bullying"


Bullying (penindasan - Red.) telah menjadi terlalu umum hari ini. Kita membaca kisah-kisah remaja yang terintimidasi melalui jaringan internet dan anak-anak yang diganggu di sekolah. Kita mendengar bos yang menggertak karyawan mereka untuk mengintimidasi dan melemahkan mereka.



Pada suatu waktu atau dalam waktu yang lain, kita semua mengalami sengat dari penindasan. Mungkin, seseorang kita tindas atau kita ditindas oleh orang lain. Entah itu ringan, sedang, atau berat, intimidasi bersifat menyakitkan dan menciptakan kenangan yang menyakitkan.



Rasa takut adalah akar permasalahannya. Penindas takut tidak dapat mengontrol atau diterima. Mereka mendapatkan beberapa kebutuhan yang mereka perlukan dengan cara yang sangat tidak benar.Orang-orang yang ditindas juga merasa takut dan terus-menerus mencari cara untuk menghindari penindas.



Sering kali, korban yang ditindas melawan dengan menjadi penindas sendiri. Mereka menggantikan kemarahan mereka dan menyakiti orang lain, tidak menyadari bahwa mereka sedang mengabadikan siklus dari intimidasi yang tidak pernah berakhir ini.



Semenjak kejatuhan manusia, intimidasi telah menjadi bagian dari pengalaman manusia. Kita tidak pernah dapat sepenuhnya menghentikannya. Namun, kita dapat mengelola masalah ini secara lebih efektif dengan menerapkan kebenaran Allah di dalam Alkitab.



Berikut adalah tujuh tip untuk membantu Anda atau orang lain yang sedang berjuang melawan penindasan.1. Pelajarilah seni berkomunikasi dengan tegas. Gunakan empati dan bahasa yang jelas untuk memahami dan dipahami. Kekerasan berasal dari rasa takut. Jadi, daripada membalas ketika seseorang menindas Anda, jadilah seperti Kristus dengan menunjukkan belas kasih, tetapi tetap menjadi kuat. Ingatlah 2 Timotius 1:7 (AYT): "Sebab, Allah bukan telah memberikan kepada kita roh ketakutan, melainkan roh kekuatan, kasih, dan penguasaan diri".



Dalam tindakan praktis, tunjukkan empati kepada penindas dengan mengatakan sesuatu seperti: "Anda terluka, marah dan merasa takut karena seseorang menyakiti Anda. Jadi, Anda ingin menyakiti orang lain. Namun, itu tidak akan membantu Anda atau saya."



Dengan mengomunikasikan empati, Anda memasuki dunia orang lain. Ini membuka pintu untuk memahami dan sering kali akan melucuti penindas. (Yang terbaik adalah dengan mendapatkan dukungan dari orang lain yang bersama dengan Anda.)



2.Pilihlah untuk menjadi percaya diri. Belalah diri Anda sendiri, tetapi tidak menyakiti orang lain dalam prosesnya. Ini memerlukan batasan jelas, gunakan pernyataan "Saya" ("Saya merasa kecewa dengan apa yang terjadi") dan ekspresikan diri dengan jelas secara tegas. Penindas menghormati kekuatan. Sebaliknya, mereka memangsa orang yang mereka anggap sebagai orang lemah.



3.Jadilah pemaaf. Ini tidak berarti melupakan pelanggaran. Ini tidak berarti bahwa apa yang terjadi adalah OK. Namun, jika korban yang diganggu bisa memaafkan, mereka akan dapat bergerak maju daripada hanya mengingat pengalaman yang melemahkan mereka.



Pengampunan membebaskan korban dari kebutuhan untuk membalas atau menghukum penindas. Seperti yang dikatakan dalam Efesus 4:31-32 (AYT): "Buanglah segala macam kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan perkataan fitnah, juga semua kejahatan, jauhkanlah itu dari padamu. Bersikaplah ramah satu dengan yang lain, milikilah hati yang lembut, dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus juga mengampuni kamu".



Namun, pastikan untuk menyiapkan dan memberikan konsekuensi kepada penindas. Jangan menyamakan penindas dengan korban yang diganggu, seolah-olah korban melakukan sesuatu yang layak untuk mendapat perlakuan yang menindas. Kekerasan tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun.



4.Praktikkan nilai-nilai kasih, penghormatan, dan harga diri. Ini adalah kebenaran yang jelas, tetapi sering kali, kita juga tidak mencintai dan menghargai diri sendiri dengan baik. Jadi, bagaimana kita bisa mengharapkan untuk mencintai dan menghormati orang lain?.



Hal yang membangun kehormatan pada diri sendiri adalah mengetahui bahwa kita telah melakukan hal yang benar, bahkan ketika itu sulit untuk dilakukan. Matius 7:12 (AYT) adalah pengingat yang sangat baik akan hal ini: "Karena itu, segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan kepada mereka karena inilah isi Hukum Taurat dan kitab para nabi".



5.Berdoa. Dapatkan kuasa Allah melalui doa. Bawalah kepada Tuhan kondisi di seputar insiden kekerasan dan mintalah kebijaksanaan untuk mengasihi penindas dan korbannya. Mazmur 34:17 mengingatkan kita akan kesetiaan Tuhan. "Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya."



6.Jalinlah relasi. Carilah kelompok pemuda, kelompok pendukung, dan teman-teman yang memiliki nilai yang sama tentang bagaimana mengelola/menghentikan tindak penindasan.



Beradalah di sekitar orang-orang yang kesepian, terisolasi, dan jadilah teman untuk si penindas dan korban yang ditindas. Kasih menyembuhkan luka. Rasul Paulus mengajarkan kita dalam Kolose 3:14 (AYT) tentang nilai kasih. "Di atas semua itu, kenakanlah kasih, yang menjadi pengikat yang sempurna."



7.Mengelola tindak penindasan. Ketahuilah tentang mana yang masuk dalam kategori tindak penindasan dan mana yang tidak. Tindak penindasan bukanlah "ritual peralihan", godaan, atau hanya sekadar gurauan. Tindak penindasan adalah perbuatan disengaja, tindakan kasar untuk mendapatkan kekuasaan dan kontrol.



Ajarkan setiap orang mengenai kebiasaan untuk menggunakan internet secara aman dengan cara mendidik pengguna internet pada kebijakan penyedia layanan internet dan konsekuensi bagi intimidasi daring. Laporkan perilaku yang mencurigakan, terapkan konsekuensi bagi si pengganggu dan berusahalah untuk melindungi mereka yang rentan.



Orangtua, guru, pendeta, dan teman-teman harus terlibat dan melaporkan semua perilaku yang tidak pantas kepada figur otoritas yang tepat.Sayangnya, kita tidak akan pernah sepenuhnya dapat menghentikan tindak penindasan.



Namun, kita bisa melayani satu orang yang tersakiti pada suatu waktu dengan memperkenalkannya pada anugerah Yesus Kristus. Dengan demikian, kita dapat melakukan bagian kita dengan mencintai dan memedulikan, baik penindas maupun korban penindasan. [Sumber : e-konsel/Foto: Ilustrasi].